APLIKASI PENDETEKSI DAN APLIKASI TERAPI DISGRAFIA

Tujuan
Penelitian ini mengembangkan aplikasi yang dapat digunakan untuk membantu sekolah, pendidik maupun orang tua dalam melakukan deteksi dan terapi terhadap anak disgrafia. Dengan adanya sistem ini, diharapkan dapat membantu sekolah, terutama sekolah non-inklusi yang tidak memiliki pakar tersebut ataupun orangtua yang mungkin masih awam agar anak-anak yang memiliki gangguan disgrafia dapat dideteksi secara dini dan ditangani secara tepat sehingga tidak menggangu psikologis anak dan proses belajar anak di masa yang akan datang.

Background
Kesulitan belajar yang umum ditemui di masyarakat terdiri dari tiga macam dan salah satunya adalah disgrafia (gangguan menulis). Disgrafia adalah suatu keadaan dimana anak menunjukkan kesulitan dalam menulis dalam berbagai level, termasuk penulisan huruf yang tidak tepat, keterlambatan dalam menulis, kesulitan mengeja, struktur kalimat yang kacau atau tidak lengkap, kesalahan penggunaan ejaan, penggunaan tanda baca dan huruf kapital yang kacau, serta sistematika penulisan yang tidak teratur (Chung & Patel, 2015). Apabila tidak terdeteksi dan tidak tertangani dengan baik, gangguan belajar ini dapat berdampak secara psikologis karena dapat disalah artikan oleh sebagian pendidik maupun orangtua yang awan sebagai anak-anak yang tidak rapih ataupun bodoh (Berninger VW dalam Chung & Patel, 2015), padahal anak-anak tersebut mengalami gangguan secara kognitif. Gangguan disgrafia ini termasuk salah satu AHDC (attention deficit hiperactivity disorser) yang membutuhkan penanganan dengan berkebutuhan khusus. Oleh karena itulah, pemerintah melindungi mereka secara konstitusional melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011, tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas (Convention On The Rigths of Persons with Disabilities) dan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 10 Tahun 2011 tentang Kebijakan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2013)
Walaupun demikian, faktanya dari 1,6 juta anak berkebutuhan khusus di Indonesia yang dapat didata, baru 18 persen yang mendapatkan penangan pendidikan yang tepat (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017). Angka ini tentunya lebih diperbesar lagi dengan kondisi fenomena anak berkebutuhan khusus yang seperti gunung es, dimana yang tidak diketahui jumlahnya lebih banyak daripada yang diketahui (batamtoday, 2014).

Sumber Dana
HIBAH PNBP UNS 2017 dan 2018

Publikasi
Hanivan D. Game Terapi Berbasis Kinect Untuk Melatih Daya Tahan Tangan Penyandang Disgrafia Dengan Metode Dynamic Difficulty Adjustment. Published online 2019.(skripsi, pembimbing: Sari Widya Sihwi, Ardhi Wijayanto)
Hutama BAA. Game Terapi Berbasis Kinect Untuk Mengatasi Mispersepsi Pada Penyandang Disgrafia Dengan Metode Dynamic Difficulty Adjustment. Published online 2019.(skripsi, pembimbing: Sari Widya Sihwi, Umi Salamah)
Sihwi SW, Fikri K, Aziz A. Dysgraphia Identification from Handwriting with Support Vector Machine Method. In: Journal of Physics: Conference Series. Vol 1201. ; 2019. doi:10.1088/1742-6596/1201/1/012050
Samodro PW, Sihwi SW, Winarno. Backpropagation implementation to classify dysgraphia in children. In: Proceeding – 2019 International Conference of Artificial Intelligence and Information Technology, ICAIIT 2019. ; 2019. doi:10.1109/ICAIIT.2019.8834520
Kurniawan DA, Sihwi SW, Gunarhadi. An expert system for diagnosing dysgraphia. In: Proceedings – 2017 2nd International Conferences on Information Technology, Information Systems and Electrical Engineering, ICITISEE 2017. Vol 2018-Janua. ; 2018. doi:10.1109/ICITISEE.2017.8285552

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *